BQN, ilir-ilir mungkin merupakan salahsatu yang paling melegenda di tanah jawa. betapa tidak, dinyanyikan hampir setiap hari oleh berbagai kalangan santri, menjadi bahan materi kultum/ceramah, hingga menjadi objek kritik berbagai pihak. Jangan salahkan kami, redaksi tawbat.com, bila tergoda berkomentar pula tentangnya.
Syairnya yang merdu, iramanya yang sederhana, serta muatan isinya yang tak habis dicerna. begitulah kiranya komentar yang pas menurut kami untuknya. mari mengingat kembali syairnya:
ilir-ilir 2x
tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo
tak sengguh temanten anyar
cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu yo penekno
kanggo masuh dodot iro
dodot iro-dodot iro kumitir bedah ing pinggir
dondomono jlumatono, kanggo sebo mengko sore
mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane
yo surako surak hore
berikut rekaman kami dari berbagai ustadz yang pernah menafsirkan lagu ini.
ilir-ilir. Ilir secara harfiah adalah kipas yang terbuat dari anyaman bambu. Anda bisa melihat langsung pada penjual sate madura. itulah ilir. Nah, ilir-ilir dengan demikian adalah mengipas-ngipas. mondar mandir Ngalor ngidul ngulon ngetan munggah mudun njungkir walik dan sebagainya. Pelajaran yang bisa dipetik, Manusia pada umumnya terjebak pada aktivitas dasar ilir-ilir. Pergi pagi-pagi pulang petang penghasilan pas-pasan potongan premi pajak pungli pol-polan pala pusing penat pegal parah-parahnya langsung pemakaman. kita terlibat dalam kesibukan dunia yang tiada habisnya. Bahkan untuk sekedar menikmati apalagi mensyukurinya pun tak sempat. itulah gambaran betapa manusia pada umumnya mengalami ilir-ilir, terkipas-kipas….
bersambung…..
Nday Hidayatullah liked this on Facebook.